Asal Usul Desa Jatiroto (Kayen)
Berawal
dari datangnya tokoh dari mataram, kedua tokoh tersebut diutus untuk mencari
jasad dari raja mataram yang meninggal dunia, namun jasadnya belum ditemukan.
Raja tersebut bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan tersebut raja dari
Mataram yang sangat disegani dan dihormati. Beliau adalah raja yang bijaksana
dan memiliki sosok yang religius. Sultan tersebut sudah memimpin Mataram selama
bertahun-tahun sehingga umur beliaupun bertambah tua dan akhirnya sultan
tersebut meninggal, jasadna tidak diketahui keberadaannya. Para punggawa
beranggapan bahwa jasad sultan tersebut masih ada di dunia hanya saja tidak
diketahui keberadaannya, maka Punggawa dan prajurit Mataram mencari jasad
Sultan tersebut dan kedua tokoh Mataram yaitu Ki Gusti Mataram dan Haji Mataram
juga ikut mencari.
Dalam pencariannya keua tokoh tersebut samapai di suatu
daerah, dimana daerah ini masih berupa hutan belantara. Sambil mencari jasad
Sultan kedua tokoh tersebut membuat tempat untuk bernaung dengan cara menebangi
semua pepohonan yang ada di hutan dan lama kelamaan tempat tersebut menjadi
perkampungan yang cukup luas. Suatu ketika, di perkampungan tersebut terjadi
sebuah bencana banjir bandang. Banjir Tersebut berasal dari Gunung Kendeng,
sehingga perkampungan tersebut menjadi pora – poranda dan sampah dari pohon
jati tersebut berserakan dimana – mana. Setelah banjir surut, kedua tokoh ini
membuat kesepakatan untuk membersihkan dan membagi tugas. Masing – masing tokoh
mendapat bagian. Mbah Haji Mataram membersihkan sebelah Selatan dan Ki Gusti
sebelah Utara. Setelah semuanya bersih tercipta perkampungan yang terbagi
menjadi dua.
Perkampungan yang dibersihkan oleh Ki Gusti dijuluki
warganya dengan Desa Pucang, sedangkan untuk wilayah Mbah Haji Mataram diberi
nama Desa Jabung. Kedua tokoh tersebut menjadi tokoh penting di desa masing –
masing. Suatu ketika terjadi perselisihan dan pertikaian antara Desa Pucang dan
Desa Jabung. Kedua tokoh inilah yang mendamaikan. Setelah bertahun – tahun
menetap di perkampungan tersebut, akhirnya kedua tokoh tersebut meninggal karena usia yang sudah tua. Mereka
juga gagal dalam melaksanakan misi, yaitu mencari jasad Sultan Agung
Hanyokrokusumo. Makam kedua tokoh tersebut dijadikan punden dan masyarakat
menyebutnya sebagai sesepuh. Makam kedua tokoh ini dinamakan “ Sentono Dalem ”.
Seiring berlalunya waktu, kedua dukuh tersebut menjadi Desa yang penduduknya
cukup banyak. Kedua dukuh ini dipimpin oleh Kepala Desa. Desa Pucang oleh
Mowidjojo dan Desa Jabung oleh Prawiro Ngadin.
Akbat sering terjadi pertikaian dan bencana maka kedua
Kepala Desa tersebut melakukan usaha untuk tirakat di punden masing –masing
dukuh dan akhirnya usahanya tidak sia – sia. Mereka berdua bermimpi bertemu
dengan Ki Gusti dan Hji Mataram. Ki Gusti dan Haji Mataram menceritakan asal
usul terjadinya kedua desa itu kepada kepala desa. Dalam mimpinya mereka berdua
memperoleh pesan dari Ki Gusti dan Haji Mataram untuk menyatukan kedua dukuh
tersebut menjadi satu karena dahulunya Ki Gusti dan Haji Mataram selau bersma.
Desa itu bernama Desa Jatiroto.
.