Senin, 20 Oktober 2014

Semut dan Kera







Semut dan Kera




         Ditengah Hutan,hiduplah Kera dan Semut. Kera selalu mengejek dan menganggap Semut adalah binatang yang tidak berguna karena berbadan kecil dan lambat. Suatu hari, Singa mengamuk dan ingin memangsa binatang lain di hutan. Kera ketakutan, tetapi Semut justru memasuki sarang Singa. Ternyata Singa sedang tidur karena kelelahan. Lalu Semut masuk ke dalam telinga Singa dan menggigitnya berulang kali. Singa terbangun karena kesakitan lalu menabrak dinding sarang hingga runtuh. Sang Singa pun tertimbun reruntuhan dan mati.



By : Dwi Hayu

Senin, 13 Oktober 2014

Asal Usul Desa Jatiroto (Kayen)

Asal Usul Desa Jatiroto (Kayen)

 

Berawal dari datangnya tokoh dari mataram, kedua tokoh tersebut diutus untuk mencari jasad dari raja mataram yang meninggal dunia, namun jasadnya belum ditemukan. Raja tersebut bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan tersebut raja dari Mataram yang sangat disegani dan dihormati. Beliau adalah raja yang bijaksana dan memiliki sosok yang religius. Sultan tersebut sudah memimpin Mataram selama bertahun-tahun sehingga umur beliaupun bertambah tua dan akhirnya sultan tersebut meninggal, jasadna tidak diketahui keberadaannya. Para punggawa beranggapan bahwa jasad sultan tersebut masih ada di dunia hanya saja tidak diketahui keberadaannya, maka Punggawa dan prajurit Mataram mencari jasad Sultan tersebut dan kedua tokoh Mataram yaitu Ki Gusti Mataram dan Haji Mataram juga ikut mencari.
            Dalam pencariannya keua tokoh tersebut samapai di suatu daerah, dimana daerah ini masih berupa hutan belantara. Sambil mencari jasad Sultan kedua tokoh tersebut membuat tempat untuk bernaung dengan cara menebangi semua pepohonan yang ada di hutan dan lama kelamaan tempat tersebut menjadi perkampungan yang cukup luas. Suatu ketika, di perkampungan tersebut terjadi sebuah bencana banjir bandang. Banjir Tersebut berasal dari Gunung Kendeng, sehingga perkampungan tersebut menjadi pora – poranda dan sampah dari pohon jati tersebut berserakan dimana – mana. Setelah banjir surut, kedua tokoh ini membuat kesepakatan untuk membersihkan dan membagi tugas. Masing – masing tokoh mendapat bagian. Mbah Haji Mataram membersihkan sebelah Selatan dan Ki Gusti sebelah Utara. Setelah semuanya bersih tercipta perkampungan yang terbagi menjadi dua.
            Perkampungan yang dibersihkan oleh Ki Gusti dijuluki warganya dengan Desa Pucang, sedangkan untuk wilayah Mbah Haji Mataram diberi nama Desa Jabung. Kedua tokoh tersebut menjadi tokoh penting di desa masing – masing. Suatu ketika terjadi perselisihan dan pertikaian antara Desa Pucang dan Desa Jabung. Kedua tokoh inilah yang mendamaikan. Setelah bertahun – tahun menetap di perkampungan tersebut, akhirnya kedua tokoh tersebut  meninggal karena usia yang sudah tua. Mereka juga gagal dalam melaksanakan misi, yaitu mencari jasad Sultan Agung Hanyokrokusumo. Makam kedua tokoh tersebut dijadikan punden dan masyarakat menyebutnya sebagai sesepuh. Makam kedua tokoh ini dinamakan “ Sentono Dalem ”. Seiring berlalunya waktu, kedua dukuh tersebut menjadi Desa yang penduduknya cukup banyak. Kedua dukuh ini dipimpin oleh Kepala Desa. Desa Pucang oleh Mowidjojo dan Desa Jabung oleh Prawiro Ngadin.
            Akbat sering terjadi pertikaian dan bencana maka kedua Kepala Desa tersebut melakukan usaha untuk tirakat di punden masing –masing dukuh dan akhirnya usahanya tidak sia – sia. Mereka berdua bermimpi bertemu dengan Ki Gusti dan Hji Mataram. Ki Gusti dan Haji Mataram menceritakan asal usul terjadinya kedua desa itu kepada kepala desa. Dalam mimpinya mereka berdua memperoleh pesan dari Ki Gusti dan Haji Mataram untuk menyatukan kedua dukuh tersebut menjadi satu karena dahulunya Ki Gusti dan Haji Mataram selau bersma. Desa itu bernama Desa Jatiroto.
 

 


.